Minggu, 27 Mei 2018

Cara Pemembuat Silase

Di daerah seperti di Indonesia yang terdapat dua musim, musim hujan dan musim kemarau, menjadi ­­perhatian penting bagi peternak yang memelihara ternak seperti sapi, kambing, domba dll. Karena terbatasnya rerumputan pada musim kemarau.
Melimpahnya hijauan pada musim hujan adalah sauatu kesempatan bagi peternak untuk menyimpan pakan hijauannyauntuk musim kemarau. Tapi bagaimana caranya pakan hijauan tersebut yang disimpan tidak kering dan nilai gizi atau protein tidak berkurang, dan pakan hijauan tersebut dapat disimpan selama 1 bulan, 2 bulan atau 6 bulan bahkan 1 tahun. Untuk itu diperkenalkan salah satu lagi teknologi pengewatan pakan hijaun ternak yaitu Silase.
Pakan hijaun yang telah dipotong dari lahan seperti Rumput Gajah, kemudian dikeringkan dengan kandungan air 60% sebelum disimpan dalam kondisi tertutup tanpa udara atau yang biasa disebut anearob.
Cara membuat silase
Kenapa pakan hijauannya ini perlu dikeringkan? Pengeringan ini dilakukan untuk mengurangi kadar air hijaun, jadi pakan hijauan ini tidak dapat cepat rusak. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan mesin pengering, atau mau lebih hemat bisa dijemur bentar dibawah terik matahari.
Apa itu silase? silase merupakan pakan hijauan ternak yang diawetkan yang disimpan dalamkantong plastic yang kedap udara atau silo, drum, dan sudah terjadi proses fermentasi dalam keadaan tanpa udara atau anaerob. Proses silase ini melibatkan bakteri-bakteri atau mikroba yang membentuk asam susu, yaitu Lactis Acidi dan streptococcus yang hidup secara anerob dengan derajat keasaman 4(pH 4).
Oleh karena itu mengapa pada saat proses silase pakan hijauan ternak yang tersimpan dalam kantong plastik atau dalam silo harus ditutup rapat, sehingga proses silase berjalan dengan baik dan pakan hijauan tidak cepat dibusukkan oleh bakteri lain dan jamur.
 Tujuan Membuat Silase Untuk Pakan Ternak
  1. Sebagai cadangan dan persediaan pakan ternak pada saaat musim tanpa penghujan (kemarau) yang panjang.
  2. Untuk meyimpan dan menampung pakan hijauan yang berlebih pada saat musim hujan, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu pada saat musim kemarau.
  3. Memanfaatkan pakan hijauan pada saat kondisi dengan nilai nutrisi terbaik seperti protein yang tinggi.
  4. Mendayagunakan sumber pakan dari sisa limbah pertanian ataupun hasil agroindustri pertanian dan perkebunan seperti bekatul, dedak, bungkil sawit, ampasa tahu,tumpi jagung, janggel jagung.
­­­­Proses Membuat silase:
Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan:
  1. Tetes tebu(molasses) = 3% dari bahan silase
  2. Dedak hulus =5% dari bahan silase
  3. Menir =3.5% dari bahan silase
  4. Onggok = 3% dari bahan silase
  5. Rumput Gajah atau hijauan sebagai bahan silase
  6. Silo atau kantong plastik.
Cara membuat Silase
  • Potong rumput hijau tersebut dengan ukuran 5-10 cm dengan menggunakan parang, atau dengan menggunakan mesin chopper. Potongan rumput yang kecil tujuannya agar rumput yang dimasukkan dalam silo dalam keadaan rapat dan padat sehingga tidak ada ruang untuk oksigen dan air yang masuk.
  • Campurkan bahan pakan tersebut hingga menjadi satu campuran.
  • Bahan pakan ternak tersebut dimasukkan dalam silo dan sekaligus dipadatkan sehingga tidak ada rongga udara.
  • Bahan pakan ternak dimasukkan sampai melebihi permukaan silo untuk menjaga kemungkinan terjadinya penyusutan isi dari silo. Dan tidak ada ruang kosong antara tutup silo dan permukaan pakan paling atas.
  • Setelah pakan hijauan dimasukkan semua, diberikan lembaran plastik, dan ditutup rapat, dan diberi pemberat seperti batu, atau kantong plastik, atau kantong plastic yang diisi dengan tanah.
Cara pengambilan silase
  • Sesudah enam sampai delapan (6—8) minggu proses ensilase telah selasai, dan silo dapat dibongkar, selanjutnya diambil ensilasenyas. Proses silase yang benar dapat bertahan satu sampai dua (1—2) tahun, bahjkan lebih.
  • Pengambilan silase secukupnya untuk pakan ternak, contonya untuk 3-5 hari.
  • Silase yang baru dibongkar sebaiknya dijemur atau diangin-anginkan terlebih dahulu.
  • Jangan sering-sering membuka silo untuk mengabil silase, ambil seperlunya, dan tutup rapat kembali silasesnya, agar silesa tidak mudah rusak
Ciri-ciri silase yang baik.
  • Rasa dan wanginya asam
  • Warna pakan ternak masih hijau
  • Teskstur rumput masih jelas
  • Tidak berjamur, tidak berlendir, dan mengumpal

Cara Pembuatan Amoniasi Jerami

Indonesia sebagai negara agraris sangat kaya akan bahan pakan sumber serat yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan pokok bagi ternak ruminansia. Bahan pakan sumber serat tersebut terutama berupa limbah pertanian misalnya jerami padi, jerami jagung, jerami kedele, pucuk tebu, di samping bahan pakan sumber serat yang berasal dari rumput lapangan ataupun rumput unggul. Bahan pakan sumber serat yang berupa limbah pertanian sangat potensi sebagai pakan ternak ruminansia terutama pada musim kemarau saat rumput sulit didapatkan dan di daerah-daerah lahan kering. Tetapi walaupun sangat potensi sebagai sumber serat, satu kendala penggunaan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia adalah kandungan nutrisi dan daya cernanya lebih rendah dibanding rumput atau bahan pakan hijauan lain. Untuk mengatasi kendala dan meningkatkan potensinya sebagai pakan ternak, maka limbah pertanian harus diolah atau diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak. Salah satu perlakuan yang mudah diaplikasikan dan berpengaruh baik terhadap peningkatan kualitas limbah pertanian adalah perlakuan urea amoniasin (Marjuki, 2013).
Amoniasi adalah cara pengolahan kimia menggunakan amoniak (NH3) sebagai bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya). Cara ini mempunyai keuntungan-keuntungan yaitu: sederhana, mudah dilakukan, murah (sumber NH3 diambil dari urea), juga sebagai pengawet, anti aflatoksin, tidak mencemari lingkungan dan efisien. Menurut Sudana (1984) jerami padi yang diberi perlakuan urea 4% dan disimpan selama 4 minggu terjadi peningkatan daya cerna dari 35% menjadi 43,6% dan kandungan nitrogen total dari 0,48% menjadi 1,55%.
CARA MEMBUAT JERAMI AMONIASI DENGAN MUDAH
 Amoniak dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel sehingga membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa, sehingga memudahkan pencernaan oleh selulase mikroorganisme rumen. Amoniak akan terserap dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam amonium asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan.
Menurut Natalia (2012) Proses pembuatan amoniasi ada dua cara, yaitu cara kering ataupun cara basah. Perbedaannya hanya terletak pada urea yang dilarutkan atau tidak dalam air.
1.   CARA KERING
a.   Bahan-bahan :
1)   100 kg jerami padi kering udara
2)   3-4 kg urea (3-4% dari bahan)
b.   Peralatan :
1)   Lembaran plastik sebagai alas
2)   Timbangan
c.   Cara Pembuatan :
1)   Jerami yang sudah terpilih dan ditimbang diikat dengan tali yang terbuat dari bambu.
2)   Bungkus dengan plastik sebelum diikat taburi urea secara merata pada setiap ikatan/bal jerami.
3)   Setelah merata, ikat bungkus secara rapat agar tidak ada udara yang masuk/anerob.
4)   Simpan di tempat yang teduh dan tidak kena hujan/ air. Sebaiknya di atas plastik pembungkus ini diberi beban agar ada tekanan ke bawah, sehingga gas amoniak yang terbentuk dimanfaatkan oleh jerami. Lama proses penyimpanan selama satu bulan.
5)  Setelah satu bulan jerami olahan dapat dibuka, hasil yang baik ditandai dengan bau amoniak yang menyengat, oleh karena itu hati-hati ketika membuka karena dapat menyebabkan mata pedih.
6)   Setelah bau yang menyegat berkurang pindahkan ke ruang penyimpanan. Simpan di tempat yang beratap dan tidak kena hujan. Perhatikan ventilasi gudang penyimpanan udara harus bebas mengalir.
2.   CARA BASAH
Teknik yang digunakan dalam proses amoniasi cara basah ialah dengan : kantong plastik
a.   Bahan-bahan :
1)   15 kg jerami kering udara
2)   870 gram urea
3)   5 liter air
b.   Peralatan :
1)   2 lembar kantong plastik ukuran 100 x 150 cm dengan ketebalan 0,4 cm
2)   1 buah ember
3)   1 buah gembor
4)   1 timbangan
5)   1 alat pengaduk
c.   Cara pembuatan :
1)   Kantong plastik langsung dilapis dua dengan cara memasukan lembar pertama ke dalam lembar kedua, agar lebih kuat dan menghindarkan bocor.
2)   Seluruh jerami dimasukkan ke dalam plastik agak dipadatkan dengan cara menekan/ mendorong jerami jangan diinjak dapat menyebabkan plastik sobek.
3)   Larutkan 870 gram urea ke dalam ember yang berisi 5 liter air dengan cara diaduk sampai benar-benar larut hingga tidak ada lagi butir-butir urea yang terlihat.
4)   Siramkan larutan urea tersebut ke dalam kantong plastik yang berisi jerami dengan gembor agar lebih mudah dan dapat merata, sampai seluruh larutan tersebut habis.
5)   Tutup dahulu kantong plastik lapis dalam dengan cara mengikat bagian atasnya, kemudian baru kantong plastik bagian luarnya. Kantong plastik ini dapat disimpan di tempat yang telah disediakan dan cukup aman.
6)   Setelah satu bulan kantong plastik dapat dibuka, ketika membuka plastik harus hati-hati karena selama proses amoniasi ini terjadi pembentukan gas, sehingga ketika plastik tersebut dibuka gas akan keluar dan dapat menyebabkan pedih di mata. Jerami hasil amoniasi kemudian diambil lalu diangin-anginkan selama dua hari sebelum diberikan kepada ternak.
Tambahan
1.  Untuk proses amoniasi dalam jumlah banyak maka jumlah kantong plastik harus disediakan dalam jumlah yang cukup. Bila pengolahan cara ini dilakukan dengan hati-hati, maka kantong plastik tersebut dapat dipakai ulang sampai tiga kali. Biasanya hanya dua kali pakai.
2.  Untuk disimpan jangka lama maka jerami amoniasi tersebut harus dijemur dan dikeringkan di panas matahari selama kurang lebih satu minggu hingga kadar air mencapai 20 %.
3.  Bila jerami tersebut sudah dijemur dan kering maka dapat disimpan di bawah atap dan tahan 6 bulan sampai satu tahun tanpa adanya penurunan kualitas.
4.   Dalam penyajian jerami amoniasi ini tidak perlu dicacah, jadi dapat diberikan dalam bentuk utuh, karena dari hasil penelitian jumlah yang dikonsumsi oleh ternak baik yang dicacah maupun yang utuh akan sama saja, sehingga untuk ekonomisnya tidak perlu dicincang.
5.   Bila tersedia konsentrat, maka sebaiknya konsentrat diberikan terlebih dahulu kira-kira satu jam sebelum pemberian jerami, hal ini dimaksud untuk merangsang perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen karena karbohidrat siap pakai dan protein yang tersedia dalam konsentrat cukup sebagai pendorong perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen terutama bakteri selulolitik yang mencerna serat kasar jerami.
Sumber :
Natalia, H., 2012. Berbagai Metoda Pengolahan Pakan Berserat. http://www.bptu-sembawa.net
Marjuki, 2013. Peningkatan Kualitas Jerami Padi Melalui Perlakuan Urea Amoniasi. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Sudana. 1984. “Straw Basal Diet for Growing Lambs” (A Thesis Submitted to the Degree of Master of Science). The Departement of Biochemistry and Nutrition, the University of New England, Armidale, N. S. W., 23451, Australia.

Cara Pembuatan Hay

Cara Membuat Hay untuk Pakan.
Beberapa teknologi pengolahan bahan pakan yang termasuk dalam proses pengawetan bisa diuraikan sebagai berikut yaitu:
  • Hay merupakan hijauan yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar dapat diberikan pada ternak sebagai pakan, terutama pada waktu kekurangan hijauan atau musim kemarau.
  • Pembuatan hay ini bertujuan untuk menyamakan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi.
  • Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan  yaitu pada waktu panen yang berlebihan bisa kita disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga bisa mengatasi kesulitan dan masalah dalam memperoleh pakan hijauan pada musim kemarau.
  • Syarat tanaman yang dibuat hay adalah bertekstur halus, dipanen pada awal musim berbunga serta dipanen dari area yang subur.
cara membuat hay

Ada dua cara membuat hay yang bisa dilakukan untuk pakan ternak yaitu :

  1. Dengan Hamparan. Dengan Hamparan yang merupakan metode sederhana, yang dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang telah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30%  yang ditanda dengan warna kecoklat-coklatan.
  1. Metode Pod: Metode Pod dilakukan dengan memakai semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang sudah dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air ±50%). Hijauan yang akan diproses harus dipanen saat menjelang berbunga berkadar protein kasar (PK) tinggi, serat kasar (SK) dan memiliki kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan mengakibatkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

 Pengawet yang dipakai dalam cara membuat pembuatan Hay yaitu :
1) Garam dapur 1-2 % berfungsi untuk
  • Mencegah timbulnya panas karena kandungan uap air.
  • Mengontrol atau mengendalikan aktivitas mikroba.
  • Menekan  dan mengendalikan pertumbuhan jamur
2) Amonia cair berfungsi untuk
  • Mencegah timbulnya panas
  • Meningkatkan kecernaan hijauan
  • Memberikan tambahan Nitrogen
Cara membuat hay adalah sebagai berikut :
1) Hijauan dipotong denga mesin copper, setelah itu langsung dibawa ke tempat penjemuran.
2) Hijauan tersebut disebar tipis dan setiap saat dibolak balikselama 1-2 jam.
3) Usahakan pada penjemuran berlangsung singkat sehingga kadar air menjadi 15-20%.
4) Sesudah kering dikumpulkan dan dipres, diikat tali untuk memudahkan tempat penyimpanan.
Kriteria hay yang berkualitas baik yaitu :
1) Berwarna tetap hijau meskipun ada yang kekuning-kuningan
2) Daun yang rusak tidak banyak
3) Bentuk hijauan masih tetap utuh & jelas
4) Tidak terlalu kering sebab akan mudah patah
Standing Hay
Standing hay merupakan istilah asing yang diberikan untuk rumput atau hijauan pakan ternak (HPT) lain yang dibiarkan kering di lapangan. Petani di Indonesia khususnya di pulau Jawa sebenarnya sudah mengenal standing hay dalam bentuk pohon (batang) dan daun jagung yang dibiarkan kering di lapangan, setelah jagungnya dipetik. Kelebihan standing hay dibanding hay adalah biasanya lebih kering dan tidak membusuk, walaupun di lapangan tidak terus-menerus mendapat cahaya matahari